Senin, 12 Januari 2026

Budidaya Ikan Kuwe (Caranx sexfasciatus)

 1. Latar Belakang

Potensi wilayah perairan laut dan garis pantai di Indonesia yang begitu luas menyimpan sumber daya alam yang cukup besar, baik sumber daya hayati, secara keseluruhan perairan teritorial, dan ZEE (Zona Ekonomi Eklusif) diperkirakan terdapat sekitar 6,4 juta ton ikan yang dapat ditangkap secara lestari (Maximum Sustainable Yield, MSY) sepanjang tahun.

Pada daerah penangkapan tertentu di perairan laut seperti di ZEE, peningkatan produksi melalui penangkapan masih dapat dilakukan, namun di daerah-daerah sekitar pantai dan lepas pantai telah terjadi padat tangkap. Di daerah-daerah yang telah mengalami padat tangkap, yang dapat dilakukan adalah melakukan rehabilitasi daerah pemijahan seperti terumbu karang dan ekosistem mangrove, serta perlu dilakukan penebaran benih ikan di daerah penangkapan yang padat tangkap.

Penembangan populasi ikan melalui kedua cara tersebut telah dilakukan oleh beberapa Negara dan Indonesia pun dapat melakukannya pada beberapa ikan yang bernilai ekonomis seperti baronang (Siganus sp.), kuwe (Carax melampigus), kakap merah (lutjanus sp.), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), napoleon (cheilinus undulates) dan lain sebagainya.

Keberhasilan dalam pemijahan ikan-ikan tersebut, selain sangat membantu dalam pengadaan benih untuk usaha akuakulture atau budidaya perairan, juga untuk penerapan kembali. Akuakulture air tawar (freshwater aquaculture), akuakulture air laut (marine aquaculture), dan akuakulture air payau (brackishwater aquaculture) telah memberikan keuntungan besar bagi beberapa Negara, termasuk dalam upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani ikan. Akuakulture, untuk masa yang akan datang dapat diandalkan karena konsumen dibeberapa  mulai menolak berbagai bahan konsumsi dari perairan yang diproduksi denngan cara yang tidak ramah lingkungan.

Ikan kuwe (C. sexfasciatus) atau yang lebih dikenal dengan blue fin treavllyu, termasuk ikan dasar dari golongan predator. Sejatinya ikan kuwe adalah ikan perairan yang hidup pada karang dangkal dan berbatasan dengan laut terbuka. 

2. Klasifikasi dan Morfologi

Menurut (Mansauda, dkk. 2013) Ikan kuwe (Caranx sexfasciatus ) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Filum : Chordata

            Kelas : Actinopterygii

                        Ordo : Perciformes

                                    Famili : Carangidae

                                                Genus : Caranx

                                                            Spesies : C. sexfasciatus

                                   Gambar 1. Morfologi ikan kuwe (C. sexfasciatus)

                                   (Sumber : Dok. Pribadi 2017).

Ikan kuwe (C. sexfasciatus) mempunyai badan memanjang dan gepeng. Punggungnya hijau kebiruan dan putih keperakan pada bagian perut. Warna sirip punggung kedua, sirip perut dan sirip ekor kebiruan dan berubah menjadi gelap dan noda-noda hitam pada badan ikan-ikan tua. Kepala agak tumpul dan memiliki dua sirip punggung (Kordi, 2015).

3. Makan dan Kebiasaan Makan

            Pakan yang digunakan adalah ikan rucah segar. Frekuensi pemberian pakan adalah satu kali sehari yaitu pada pagi atau sore hari. Pakan disebar merata kedalam kerambah. Ikan rucah yang dijadikan sebagai pakan, terlebih dahulu dipotong kecil-kecil (dicincang) menggunakan gunting sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan, ternyata dalam waktu 12 jam setelah pemberian pakan, sekitar 92% pakan tersebut dicerna. Diperkirakan ikan kuwe membutuhkan waktu 12 jam untuk mencerna makanannya. Berdasarkan jenis makanannya dan pengamatan pada percobaan budidaya di keramba jaring apung, maka ikan kuwe ini tergolong karnivora dan predator terhadap ikan yang berukuran kecil dengan cara makannya mencaplok dan tipe mulut yang umumnya terminal. Ikan kuwe bersifat rakus dan aktifitas makannya tidak dipengaruhi oleh periodisitas terang sehingga meskipun diberikan pakan pada malam hari tetap memberikan respons. Namun demikian dalam kegiatan budidaya, waktu pemberian pakan merupakan hal yang harus diperhitungkan karena akan mempengaruhi kebutuhan tenaga yang menciri pada peningkatan biaya operasional (Darmawan, 2009).

4. Teknik Budidaya

Pengembangan dari usaha budidaya ikan kuwe keramba jaring apung membutuhkan analisa kelayakan usaha untuk menjamin keberlangsungan usaha yang dimaksud. Melalui analisa kelayakan menjadikan bisnis/proyek yang dimaksud dapat meningkatkan kesejahteraan dan perkenomian rakyat, baik yang terlibat secara langsung maupun yang muncul karena adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya usaha/proyek tersebut. Selain itu ikan kuwe merupakan salah satu jenis ikan karang yang sangat potensial untuk dikembangkan karena mempunyai beberapa keunggulan komparatif antara lain sebagai berikut mampu hidup dalam kondisi kepadatan yang tinggi (150 ekor/m2), mempunyai laju pertumbuhan tinggi, sangat tanggap terhadap penambahan pakan dari ikan rucah, konversi pakan cukup efisien dan digemari konsumen. Pada umumnya, ikan-ikan karang ekonomis penting seperti tersebut di atas diperoleh dari penangkapan di alam. Dengan semakin tingginya permintaan pasar terhadap jenis-jenis ikan tersebut baik untuk pasar lokal maupun pasar internasional, semakin tinggi pula tingkat tekanan penangkapan yang dikhawatirkan mengganggu kelestariannya. Salah satu teknologi budidaya yang ditawarkan untuk mengatasi kekurangan pasokan ikan-ikan tersebut yang bisa juga digunakan sebagai cara mengurangi tekanan penangkapan di alam adalah teknologi pembesaran dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) di laut (Alit, 2007).

5. Penyakit

            Faktor biotik merugikan ikan di dalam ekosistem dapat dibagi atas tiga kelompok besar yakni parasit, yaitu organisme yang hidup dan memperoleh makanan dari host (inang) yang ditumpanginya. Kedalam golongan ini termasuk bakteri, protozoa, virus, crustacea (udang renik), cacing dan jamur. Hama, yaitu organisme yang mengganggu atau merusak ikan secara fisik contohnya Tryonix sp (bulus), Egretta sp (burung kuntul), ular air (Cerberus rhyncops) dan lain-lain. Predator, yakni hewan karnifora pemangsa misalnya Varanus Salvador (biawak). Kompetitor, yakni organisme yang merupakan pesaing dalam memperoleh oksigen, ruang dan makanan seperti ikan-ikan liar, belut dan lain-lain. 

Ditambahkan lagi selain faktor biotic, faktor non biotik juga dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya penyakit, antara lain faktor lingkungan; Diantara faktor lingkungan yang dapat merugikan kesehatan ikan ialah pH air yang terlalu tinggi atau rendah, kandungan oksigen yang rendah, temperatur yang berubah secara tiba-tiba, adanya gas beracun serta kandungan racun yang berada di dalam air yang berasal dari pestisida, pupuk, limbah pabrik , limbah rumah tangga dan lain-lain. Pakan;  penyakit dapat timbul karena kualitas pakan yang diberikan tidak baik. Gizi rendah, kurang vitamin, busuk atau telalu lama disimpan serta pemberian pakan yang tidak tepat. Genetik; penyakit genetis atau turunan dapat berupa bentuk tubuh yang tidak normal dan pertumbuhan yang lambat (Novriadi dkk, 2014).

6. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam budidaya ikan kuwe dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Alat dan Bahan 

No. Alat dan Bahan                                                            Kegunaan

1. Alat

- Keramba jaring apung                             Sebagai wadah pembudidayaan

- Perahu/sampan                                        Sebagai alat penyebrangan

- Pisau/gunting                                           Sebagai alat pemotong pakan

- Ember                                                      Sebagai wadah penyimpanan pakan

2. Bahan

     - Ikan Kuwe  (C.  sexfasciatus)                 Objek pembudidayaan

- Ikan Rucah                                              Bahan pakan ikan Kuwe


7. Prosedur 

            Prosedur kerja dari budidaya ikan kuwe di karamba jaring apung adalah sebagai berikut :

  •  Melakukan persiapan wadah budidaya (KJA)
  • Sebelum penebaran perhatikan kondisi kualitas air yang disesuaikan dengan habitat aslinya di alam dengan dilakukan adaptasi secara perlahan-lahan, terutama terhadap salinitas dan suhu.
  • Kemudiaan benih dimasukkan ke dalam karamba secara perlahan-lahan Pemberian pakan secara rutin setiap harinya dengan pemberian pakan berupa ikan rucah.
  • Menimbang ikan kuwe agar diketahui pertumbuhan dan perkembangannya.
  • Mencatat data hasil pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan Kuwe.

8. Pembahasan

Salah satu faktor keberhasilan suatu budidaya khususnya (marine aquaculture) tentunya tidak terlepas dari adanya ketersediaan faktor pendukung baik berupa segi penanganan, wadah, kualitas air, benih dan faktor-faktor pendukung lainnya. Salah satu hal yang menjadi masalah dalam kegiatan praktikum ini adalah ketersediaan bibit dan penanganan yang kurang baik.

Dari hasil budidaya ikan kuwe (C. sexfasciatus) pada karamba jaring apung (KJA) dengan jumlah benih yang ditebar pada saat penebaran yaitu 160 ekor, dalam kurung waktu kurang dari 3 bulan pemeliharaan ikan kuwe (C. sexfasciatus) tersebut sudah mencapai 40 ekor yang mati akibat penyakit. Penyakit yang menyebabkan matinya ikan-ikan yang dibudidaya ada 2 yaitu stress dan organisme parasit. Berdasarkan perkiraan, kematian ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang dibudidayakan tersebut diakibatkan karena stress sebagai akibat dari aktifitas manusia pada karamba jaring apung yang berlebihan seperti berenang disekitar karamba. Hal ini sesuai dengan pendapat (Novriadi dkk, 2014) menyatakan bahwa kriteria benih ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang baik, adalah: ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.

Dalam budidaya ikan kuwe hal yang paling penting adalah pemberian pakan yang banyak dan yang mudah ditemukan seperti ikan rucah yang banyak dijual di pasar tradisonal. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Mansauda dkk, 2013) yang menyatakan bahwa ketersediaan ikan rucah sebagai pakan utama ikan Kuwe selalu berfluktuasi menurut musim penangkapan baik jumlah maupun jenisnya. Pada saat tertentu ketersediaan pakan ini sedikit sehingga menjadi masalah besar dalam pemeliharaannya.

Ikan kuwe bersifat karnivora. Ikan ini di alam memakan ikan dan krustasea kecil. Oleh karena itu, hingga saat ini pakan yang terbaik untuk budidaya ikan kuwe masih berupa ikan rucah yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukan mulutnya. Pakan diberikan sekitar 8-6% bobot badan per hari pada pagi dan sore hari. Perubahan jumlah pemberian pakan dilakukan setiap bulan setelah dilakukan pengukuran pertumbuhan. Ikan rucah yang diberikan dengan frekuensi pemberian ikan rucah dua kali sehari dengan jumlah pemberian hingga kenyang.

Setelah pemelihaaan selama 3 bulan, sudah cukup berkembang dari ukuran benih yang diperkirakan berkisar antara 20-25 g/ekor kini di peroleh rata-rata berat ikan yaitu 67 gram/ekor dari 11 ekor ikan kuwe yang di jadikan sampel pengukuran berat/bobot ikan. Selain kondisi keramba jaring apung dan beberapa parameter perairan yang sesuai untuk budidaya ikan kuwe, pertumbuhan tersebut juga ditunjang oleh pemberian pakan terhadap ikan yang dibudidayakan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung kebutuhan. Namun pada budidaya yang dilakukan banyak yang mati sebelum panen. Hal ini sesuai dengan pendapat (Metusalach dkk, 2014) menyatakan bahwa peningkatan produksi perikanan pada kenyataannya tidak serta merta diikuti oleh peningkatan ketersediaan ikan segar baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku bagi industri pengolahan ikan. Terutama disebabkan oleh masih tingginya tingkat kerusakan ikan pascapanen.

9. Kesimpulan

  • Kriteria benih ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh. 
  • Dalam budidaya ikan kuwe hal yang paling penting adalah pemberian pakan yang banyak dan yang mudah ditemukan seperti ikan rucah yang banyak dijual di pasar tradisonal. 
  • Faktor keberhasilan suatu budidaya tidak terlepas dari adanya ketersediaan faktor pendukung baik berupa segi penanganan, wadah, kualitas air, benih dan faktor-faktor pendukung lainnya. 

DAFTAR PUSTAKA

Alit, A.A.2007. 14 Analisis FInansial Produksi Benih Ikan Kuwe Gonathano Spciousus Forsskal Dengan Padat Penebaran Berbeda Dalam Hatchery Skala Rumah Tangga Di Kecamatan Gerokgak Buleleng Bali. Jurnal Neptunus. 14(1):8-11.

Dermawan, B.D. 2009. Pemanfaatan Ruang  Media  Budidaya  Keramba  Jaring Apung Melalui Polikultur  Ikan  Kerapu  (Serranidae), Ikan  Kuwe (Carangidae), Ikan  Napoleon (Cheilinus Undulatus). Jurnal Sumber daya Perairan. 3(1):6-9.

Kordi, K. M. Ghufran H.2015. Pengelolaan  Perikanan  Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Mansauda,G.F., Sampekalo J., Lumenta C.2013. Pertumbuhan Ikan Kuwe Putih Caranx Sexfasciatus Di Karamba Jaring Apung Yang Diberi Pakan  Rucah Dengan Bahan Tambahan Yang Berbeda. Jurnal Ipteks PSP. 1(1): 40 – 52.

Metusalach,  Kasmiati,  Fahrul,  Jaya  I. 2014.  Pengaruh  Cara   Penangkapan,  Fasilitas Penangan  dan Cara Penanganan  Ikan   Terhadap   Kualitas  Ikan  Yang Dihasilkan. Jurnal Budidaya Perairan.1(3): 81-86.

Novriadi, R., Aguatatik, S., Hedrianto, Pramuanggit, R., Wibowo, A.H. 2014. Penyakit infeksi  pada  budidaya ikan laut indonesia. Balai perikanan budidaya laut batam.