Potensi wilayah perairan laut dan garis pantai di
Indonesia yang begitu luas menyimpan sumber daya alam yang cukup besar, baik
sumber daya hayati, secara keseluruhan perairan teritorial, dan ZEE (Zona
Ekonomi Eklusif) diperkirakan terdapat sekitar 6,4 juta ton ikan yang dapat
ditangkap secara lestari (Maximum Sustainable Yield, MSY) sepanjang tahun.
Pada daerah penangkapan tertentu di perairan laut
seperti di ZEE, peningkatan produksi melalui penangkapan masih dapat dilakukan,
namun di daerah-daerah sekitar pantai dan lepas pantai telah terjadi padat
tangkap. Di daerah-daerah yang telah mengalami padat tangkap, yang dapat
dilakukan adalah melakukan rehabilitasi daerah pemijahan seperti terumbu karang
dan ekosistem mangrove, serta perlu dilakukan penebaran benih ikan di daerah
penangkapan yang padat tangkap.
Penembangan populasi ikan melalui kedua cara
tersebut telah dilakukan oleh beberapa Negara dan Indonesia pun dapat
melakukannya pada beberapa ikan yang bernilai ekonomis seperti baronang (Siganus sp.), kuwe (Carax melampigus), kakap merah (lutjanus
sp.), kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus), napoleon (cheilinus
undulates) dan lain sebagainya.
Keberhasilan dalam pemijahan ikan-ikan tersebut,
selain sangat membantu dalam pengadaan benih untuk usaha akuakulture atau
budidaya perairan, juga untuk penerapan kembali. Akuakulture air tawar
(freshwater aquaculture), akuakulture air laut (marine aquaculture), dan
akuakulture air payau (brackishwater aquaculture) telah memberikan keuntungan
besar bagi beberapa Negara, termasuk dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
nelayan dan petani ikan. Akuakulture, untuk masa yang akan datang dapat
diandalkan karena konsumen dibeberapa
mulai menolak berbagai bahan konsumsi dari perairan yang diproduksi
denngan cara yang tidak ramah lingkungan.
Ikan kuwe (C. sexfasciatus) atau yang lebih dikenal dengan blue fin treavllyu, termasuk ikan dasar dari golongan predator. Sejatinya ikan kuwe adalah ikan perairan yang hidup pada karang dangkal dan berbatasan dengan laut terbuka.
2. Klasifikasi dan Morfologi
Menurut
(Mansauda, dkk. 2013) Ikan kuwe (Caranx
sexfasciatus ) dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Famili
: Carangidae
Genus
: Caranx
Spesies
: C. sexfasciatus
Gambar
1. Morfologi ikan kuwe (C.
sexfasciatus)
(Sumber : Dok. Pribadi 2017).
Ikan kuwe (C. sexfasciatus) mempunyai badan
memanjang dan gepeng. Punggungnya hijau kebiruan dan putih keperakan
pada bagian perut. Warna sirip punggung kedua, sirip perut dan sirip ekor
kebiruan dan berubah menjadi gelap dan noda-noda hitam pada badan ikan-ikan
tua. Kepala agak tumpul dan memiliki dua sirip punggung (Kordi, 2015).
3. Makan dan Kebiasaan
Makan
Pakan
yang digunakan adalah ikan rucah segar. Frekuensi pemberian pakan adalah satu
kali sehari yaitu pada pagi atau sore hari. Pakan disebar merata kedalam
kerambah. Ikan rucah yang dijadikan sebagai pakan, terlebih dahulu dipotong
kecil-kecil (dicincang) menggunakan gunting sesuai dengan ukuran bukaan mulut
ikan, ternyata dalam waktu 12 jam setelah pemberian pakan,
sekitar 92% pakan tersebut dicerna. Diperkirakan ikan kuwe membutuhkan waktu 12
jam untuk mencerna makanannya. Berdasarkan jenis makanannya dan pengamatan pada
percobaan budidaya di keramba jaring apung, maka ikan kuwe ini tergolong
karnivora dan predator terhadap ikan yang berukuran kecil dengan cara makannya
mencaplok dan tipe mulut yang umumnya terminal. Ikan kuwe bersifat rakus dan
aktifitas makannya tidak dipengaruhi oleh periodisitas terang sehingga meskipun
diberikan pakan pada malam hari tetap memberikan respons. Namun demikian dalam
kegiatan budidaya, waktu pemberian pakan merupakan hal yang harus
diperhitungkan karena akan mempengaruhi kebutuhan tenaga yang menciri pada
peningkatan biaya operasional (Darmawan, 2009).
4. Teknik Budidaya
Pengembangan dari usaha budidaya
ikan kuwe keramba jaring apung membutuhkan analisa kelayakan usaha untuk
menjamin keberlangsungan usaha yang dimaksud. Melalui analisa kelayakan
menjadikan bisnis/proyek yang dimaksud dapat meningkatkan kesejahteraan dan
perkenomian rakyat, baik yang terlibat secara langsung maupun yang muncul
karena adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya usaha/proyek tersebut.
Selain itu ikan kuwe merupakan salah satu jenis ikan karang yang sangat
potensial untuk dikembangkan karena mempunyai beberapa keunggulan komparatif
antara lain sebagai berikut mampu hidup dalam kondisi kepadatan yang tinggi
(150 ekor/m2), mempunyai laju pertumbuhan tinggi, sangat tanggap terhadap
penambahan pakan dari ikan rucah, konversi pakan cukup efisien dan digemari
konsumen. Pada umumnya, ikan-ikan karang ekonomis penting seperti tersebut di
atas diperoleh dari penangkapan di alam. Dengan semakin tingginya permintaan
pasar terhadap jenis-jenis ikan tersebut baik untuk pasar lokal maupun pasar
internasional, semakin tinggi pula tingkat tekanan penangkapan yang
dikhawatirkan mengganggu kelestariannya. Salah satu teknologi budidaya yang
ditawarkan untuk mengatasi kekurangan pasokan ikan-ikan tersebut yang bisa juga
digunakan sebagai cara mengurangi tekanan penangkapan di alam adalah teknologi
pembesaran dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) di laut (Alit, 2007).
5.
Penyakit
Faktor biotik
merugikan ikan di dalam ekosistem dapat dibagi atas tiga kelompok besar yakni
parasit, yaitu organisme yang hidup dan memperoleh makanan dari host (inang)
yang ditumpanginya. Kedalam golongan ini termasuk bakteri, protozoa, virus,
crustacea (udang renik), cacing dan jamur. Hama, yaitu organisme yang mengganggu
atau merusak ikan secara fisik contohnya Tryonix sp (bulus), Egretta sp
(burung kuntul), ular air (Cerberus rhyncops) dan lain-lain. Predator,
yakni hewan karnifora pemangsa misalnya Varanus Salvador (biawak).
Kompetitor, yakni organisme yang merupakan pesaing dalam memperoleh oksigen,
ruang dan makanan seperti ikan-ikan liar, belut dan lain-lain.
Ditambahkan lagi selain faktor biotic, faktor non biotik juga dapat
menjadi salah satu pemicu terjadinya penyakit, antara lain faktor lingkungan;
Diantara faktor lingkungan yang dapat merugikan kesehatan ikan ialah pH air
yang terlalu tinggi atau rendah, kandungan oksigen yang rendah, temperatur yang
berubah secara tiba-tiba, adanya gas beracun serta kandungan racun yang berada
di dalam air yang berasal dari pestisida, pupuk, limbah pabrik , limbah rumah
tangga dan lain-lain. Pakan; penyakit
dapat timbul karena kualitas pakan yang diberikan tidak baik. Gizi rendah,
kurang vitamin, busuk atau telalu lama disimpan serta pemberian pakan yang
tidak tepat. Genetik; penyakit genetis atau turunan dapat berupa bentuk tubuh
yang tidak normal dan pertumbuhan yang lambat (Novriadi dkk, 2014).
6. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam budidaya ikan kuwe dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel
1. Alat dan Bahan
|
No.
Alat dan Bahan
Kegunaan |
|
1.
Alat - Keramba jaring
apung
Sebagai wadah pembudidayaan -
Perahu/sampan Sebagai alat penyebrangan - Pisau/gunting
Sebagai alat pemotong pakan - Ember
Sebagai wadah penyimpanan pakan 2.
Bahan
- Ikan Kuwe (C. sexfasciatus) Objek pembudidayaan - Ikan Rucah Bahan pakan ikan Kuwe |
7.
Prosedur
Prosedur
kerja dari budidaya ikan kuwe di karamba jaring apung adalah sebagai
berikut :
- Melakukan persiapan wadah
budidaya (KJA)
- Sebelum penebaran perhatikan kondisi kualitas air yang disesuaikan dengan habitat aslinya di alam dengan dilakukan adaptasi secara perlahan-lahan, terutama terhadap salinitas dan suhu.
- Kemudiaan benih
dimasukkan ke dalam karamba secara perlahan-lahan Pemberian pakan secara rutin
setiap harinya dengan pemberian pakan berupa ikan rucah.
- Menimbang ikan kuwe agar
diketahui pertumbuhan dan perkembangannya.
- Mencatat data hasil pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan Kuwe.
8. Pembahasan
Salah satu faktor keberhasilan
suatu budidaya khususnya (marine aquaculture) tentunya tidak terlepas dari adanya
ketersediaan faktor pendukung baik berupa segi penanganan, wadah, kualitas air,
benih dan faktor-faktor pendukung lainnya. Salah satu hal yang menjadi masalah
dalam kegiatan praktikum ini adalah ketersediaan bibit dan penanganan yang
kurang baik.
Dari hasil budidaya ikan kuwe (C. sexfasciatus) pada karamba jaring apung (KJA) dengan jumlah benih yang
ditebar pada saat penebaran yaitu 160 ekor, dalam kurung waktu kurang dari 3 bulan
pemeliharaan ikan kuwe (C. sexfasciatus) tersebut sudah mencapai 40 ekor yang mati
akibat penyakit. Penyakit yang menyebabkan matinya ikan-ikan yang dibudidaya
ada 2 yaitu stress dan organisme parasit. Berdasarkan perkiraan, kematian ikan
kuwe (C. sexfasciatus) yang dibudidayakan tersebut diakibatkan karena stress
sebagai akibat dari aktifitas manusia pada karamba jaring apung yang berlebihan
seperti berenang disekitar karamba. Hal ini sesuai dengan pendapat (Novriadi dkk, 2014) menyatakan bahwa kriteria benih ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang
baik, adalah: ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta
tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak
aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata
terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.
Dalam budidaya ikan kuwe hal yang paling penting adalah pemberian pakan yang banyak dan yang mudah ditemukan seperti ikan rucah yang banyak dijual di pasar tradisonal. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Mansauda dkk, 2013) yang menyatakan bahwa ketersediaan ikan rucah sebagai pakan utama ikan Kuwe selalu berfluktuasi menurut musim penangkapan baik jumlah maupun jenisnya. Pada saat tertentu ketersediaan pakan ini sedikit sehingga menjadi masalah besar dalam pemeliharaannya.
Ikan kuwe
bersifat karnivora. Ikan ini di alam memakan ikan dan krustasea kecil. Oleh
karena itu, hingga saat ini pakan yang terbaik untuk budidaya ikan kuwe masih
berupa ikan rucah yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukan mulutnya.
Pakan diberikan sekitar 8-6% bobot badan per hari pada pagi dan sore hari.
Perubahan jumlah pemberian pakan dilakukan setiap bulan setelah dilakukan
pengukuran pertumbuhan. Ikan rucah yang diberikan dengan frekuensi pemberian
ikan rucah dua kali sehari dengan jumlah pemberian hingga kenyang.
Setelah pemelihaaan selama 3 bulan,
sudah cukup berkembang
dari ukuran benih yang diperkirakan berkisar antara 20-25 g/ekor kini di
peroleh rata-rata berat ikan yaitu 67 gram/ekor dari 11 ekor ikan kuwe yang di
jadikan sampel pengukuran berat/bobot ikan. Selain kondisi keramba jaring apung
dan beberapa parameter perairan yang sesuai untuk budidaya ikan kuwe,
pertumbuhan tersebut juga ditunjang oleh pemberian pakan terhadap ikan yang
dibudidayakan. Sistem pemanenan
dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung kebutuhan. Namun pada budidaya
yang dilakukan banyak yang mati sebelum panen. Hal ini sesuai dengan pendapat
(Metusalach dkk, 2014) menyatakan
bahwa peningkatan produksi perikanan pada
kenyataannya tidak serta merta diikuti oleh peningkatan ketersediaan ikan segar
baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku bagi industri pengolahan
ikan. Terutama disebabkan oleh masih tingginya tingkat kerusakan ikan
pascapanen.
9. Kesimpulan
- Kriteria benih ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.
- Dalam budidaya ikan kuwe hal yang paling penting adalah pemberian pakan yang banyak dan yang mudah ditemukan seperti ikan rucah yang banyak dijual di pasar tradisonal.
- Faktor keberhasilan suatu budidaya tidak terlepas dari adanya ketersediaan faktor pendukung baik berupa segi penanganan, wadah, kualitas air, benih dan faktor-faktor pendukung lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Alit, A.A.2007. 14 Analisis FInansial Produksi Benih Ikan Kuwe Gonathano Spciousus Forsskal Dengan Padat Penebaran Berbeda Dalam Hatchery Skala Rumah Tangga Di Kecamatan Gerokgak Buleleng Bali. Jurnal Neptunus. 14(1):8-11.
Dermawan, B.D. 2009. Pemanfaatan Ruang Media Budidaya Keramba Jaring Apung Melalui Polikultur Ikan Kerapu (Serranidae), Ikan Kuwe (Carangidae), Ikan Napoleon (Cheilinus Undulatus). Jurnal Sumber daya Perairan. 3(1):6-9.
Kordi, K. M. Ghufran H.2015. Pengelolaan Perikanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Mansauda,G.F., Sampekalo J., Lumenta C.2013. Pertumbuhan Ikan Kuwe Putih Caranx Sexfasciatus Di Karamba Jaring Apung Yang Diberi Pakan Rucah Dengan Bahan Tambahan Yang Berbeda. Jurnal Ipteks PSP. 1(1): 40 – 52.
Metusalach, Kasmiati, Fahrul, Jaya I. 2014. Pengaruh Cara Penangkapan, Fasilitas Penangan dan Cara Penanganan Ikan Terhadap Kualitas Ikan Yang Dihasilkan. Jurnal Budidaya Perairan.1(3): 81-86.
Novriadi, R., Aguatatik, S., Hedrianto, Pramuanggit, R., Wibowo, A.H. 2014. Penyakit infeksi pada budidaya ikan laut indonesia. Balai perikanan budidaya laut batam.