Senin, 12 Januari 2026

Budidaya Ikan Kuwe (Caranx sexfasciatus)

 1. Latar Belakang

Potensi wilayah perairan laut dan garis pantai di Indonesia yang begitu luas menyimpan sumber daya alam yang cukup besar, baik sumber daya hayati, secara keseluruhan perairan teritorial, dan ZEE (Zona Ekonomi Eklusif) diperkirakan terdapat sekitar 6,4 juta ton ikan yang dapat ditangkap secara lestari (Maximum Sustainable Yield, MSY) sepanjang tahun.

Pada daerah penangkapan tertentu di perairan laut seperti di ZEE, peningkatan produksi melalui penangkapan masih dapat dilakukan, namun di daerah-daerah sekitar pantai dan lepas pantai telah terjadi padat tangkap. Di daerah-daerah yang telah mengalami padat tangkap, yang dapat dilakukan adalah melakukan rehabilitasi daerah pemijahan seperti terumbu karang dan ekosistem mangrove, serta perlu dilakukan penebaran benih ikan di daerah penangkapan yang padat tangkap.

Penembangan populasi ikan melalui kedua cara tersebut telah dilakukan oleh beberapa Negara dan Indonesia pun dapat melakukannya pada beberapa ikan yang bernilai ekonomis seperti baronang (Siganus sp.), kuwe (Carax melampigus), kakap merah (lutjanus sp.), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), napoleon (cheilinus undulates) dan lain sebagainya.

Keberhasilan dalam pemijahan ikan-ikan tersebut, selain sangat membantu dalam pengadaan benih untuk usaha akuakulture atau budidaya perairan, juga untuk penerapan kembali. Akuakulture air tawar (freshwater aquaculture), akuakulture air laut (marine aquaculture), dan akuakulture air payau (brackishwater aquaculture) telah memberikan keuntungan besar bagi beberapa Negara, termasuk dalam upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani ikan. Akuakulture, untuk masa yang akan datang dapat diandalkan karena konsumen dibeberapa  mulai menolak berbagai bahan konsumsi dari perairan yang diproduksi denngan cara yang tidak ramah lingkungan.

Ikan kuwe (C. sexfasciatus) atau yang lebih dikenal dengan blue fin treavllyu, termasuk ikan dasar dari golongan predator. Sejatinya ikan kuwe adalah ikan perairan yang hidup pada karang dangkal dan berbatasan dengan laut terbuka. 

2. Klasifikasi dan Morfologi

Menurut (Mansauda, dkk. 2013) Ikan kuwe (Caranx sexfasciatus ) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Filum : Chordata

            Kelas : Actinopterygii

                        Ordo : Perciformes

                                    Famili : Carangidae

                                                Genus : Caranx

                                                            Spesies : C. sexfasciatus

                                   Gambar 1. Morfologi ikan kuwe (C. sexfasciatus)

                                   (Sumber : Dok. Pribadi 2017).

Ikan kuwe (C. sexfasciatus) mempunyai badan memanjang dan gepeng. Punggungnya hijau kebiruan dan putih keperakan pada bagian perut. Warna sirip punggung kedua, sirip perut dan sirip ekor kebiruan dan berubah menjadi gelap dan noda-noda hitam pada badan ikan-ikan tua. Kepala agak tumpul dan memiliki dua sirip punggung (Kordi, 2015).

3. Makan dan Kebiasaan Makan

            Pakan yang digunakan adalah ikan rucah segar. Frekuensi pemberian pakan adalah satu kali sehari yaitu pada pagi atau sore hari. Pakan disebar merata kedalam kerambah. Ikan rucah yang dijadikan sebagai pakan, terlebih dahulu dipotong kecil-kecil (dicincang) menggunakan gunting sesuai dengan ukuran bukaan mulut ikan, ternyata dalam waktu 12 jam setelah pemberian pakan, sekitar 92% pakan tersebut dicerna. Diperkirakan ikan kuwe membutuhkan waktu 12 jam untuk mencerna makanannya. Berdasarkan jenis makanannya dan pengamatan pada percobaan budidaya di keramba jaring apung, maka ikan kuwe ini tergolong karnivora dan predator terhadap ikan yang berukuran kecil dengan cara makannya mencaplok dan tipe mulut yang umumnya terminal. Ikan kuwe bersifat rakus dan aktifitas makannya tidak dipengaruhi oleh periodisitas terang sehingga meskipun diberikan pakan pada malam hari tetap memberikan respons. Namun demikian dalam kegiatan budidaya, waktu pemberian pakan merupakan hal yang harus diperhitungkan karena akan mempengaruhi kebutuhan tenaga yang menciri pada peningkatan biaya operasional (Darmawan, 2009).

4. Teknik Budidaya

Pengembangan dari usaha budidaya ikan kuwe keramba jaring apung membutuhkan analisa kelayakan usaha untuk menjamin keberlangsungan usaha yang dimaksud. Melalui analisa kelayakan menjadikan bisnis/proyek yang dimaksud dapat meningkatkan kesejahteraan dan perkenomian rakyat, baik yang terlibat secara langsung maupun yang muncul karena adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya usaha/proyek tersebut. Selain itu ikan kuwe merupakan salah satu jenis ikan karang yang sangat potensial untuk dikembangkan karena mempunyai beberapa keunggulan komparatif antara lain sebagai berikut mampu hidup dalam kondisi kepadatan yang tinggi (150 ekor/m2), mempunyai laju pertumbuhan tinggi, sangat tanggap terhadap penambahan pakan dari ikan rucah, konversi pakan cukup efisien dan digemari konsumen. Pada umumnya, ikan-ikan karang ekonomis penting seperti tersebut di atas diperoleh dari penangkapan di alam. Dengan semakin tingginya permintaan pasar terhadap jenis-jenis ikan tersebut baik untuk pasar lokal maupun pasar internasional, semakin tinggi pula tingkat tekanan penangkapan yang dikhawatirkan mengganggu kelestariannya. Salah satu teknologi budidaya yang ditawarkan untuk mengatasi kekurangan pasokan ikan-ikan tersebut yang bisa juga digunakan sebagai cara mengurangi tekanan penangkapan di alam adalah teknologi pembesaran dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) di laut (Alit, 2007).

5. Penyakit

            Faktor biotik merugikan ikan di dalam ekosistem dapat dibagi atas tiga kelompok besar yakni parasit, yaitu organisme yang hidup dan memperoleh makanan dari host (inang) yang ditumpanginya. Kedalam golongan ini termasuk bakteri, protozoa, virus, crustacea (udang renik), cacing dan jamur. Hama, yaitu organisme yang mengganggu atau merusak ikan secara fisik contohnya Tryonix sp (bulus), Egretta sp (burung kuntul), ular air (Cerberus rhyncops) dan lain-lain. Predator, yakni hewan karnifora pemangsa misalnya Varanus Salvador (biawak). Kompetitor, yakni organisme yang merupakan pesaing dalam memperoleh oksigen, ruang dan makanan seperti ikan-ikan liar, belut dan lain-lain. 

Ditambahkan lagi selain faktor biotic, faktor non biotik juga dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya penyakit, antara lain faktor lingkungan; Diantara faktor lingkungan yang dapat merugikan kesehatan ikan ialah pH air yang terlalu tinggi atau rendah, kandungan oksigen yang rendah, temperatur yang berubah secara tiba-tiba, adanya gas beracun serta kandungan racun yang berada di dalam air yang berasal dari pestisida, pupuk, limbah pabrik , limbah rumah tangga dan lain-lain. Pakan;  penyakit dapat timbul karena kualitas pakan yang diberikan tidak baik. Gizi rendah, kurang vitamin, busuk atau telalu lama disimpan serta pemberian pakan yang tidak tepat. Genetik; penyakit genetis atau turunan dapat berupa bentuk tubuh yang tidak normal dan pertumbuhan yang lambat (Novriadi dkk, 2014).

6. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam budidaya ikan kuwe dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Alat dan Bahan 

No. Alat dan Bahan                                                            Kegunaan

1. Alat

- Keramba jaring apung                             Sebagai wadah pembudidayaan

- Perahu/sampan                                        Sebagai alat penyebrangan

- Pisau/gunting                                           Sebagai alat pemotong pakan

- Ember                                                      Sebagai wadah penyimpanan pakan

2. Bahan

     - Ikan Kuwe  (C.  sexfasciatus)                 Objek pembudidayaan

- Ikan Rucah                                              Bahan pakan ikan Kuwe


7. Prosedur 

            Prosedur kerja dari budidaya ikan kuwe di karamba jaring apung adalah sebagai berikut :

  •  Melakukan persiapan wadah budidaya (KJA)
  • Sebelum penebaran perhatikan kondisi kualitas air yang disesuaikan dengan habitat aslinya di alam dengan dilakukan adaptasi secara perlahan-lahan, terutama terhadap salinitas dan suhu.
  • Kemudiaan benih dimasukkan ke dalam karamba secara perlahan-lahan Pemberian pakan secara rutin setiap harinya dengan pemberian pakan berupa ikan rucah.
  • Menimbang ikan kuwe agar diketahui pertumbuhan dan perkembangannya.
  • Mencatat data hasil pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan Kuwe.

8. Pembahasan

Salah satu faktor keberhasilan suatu budidaya khususnya (marine aquaculture) tentunya tidak terlepas dari adanya ketersediaan faktor pendukung baik berupa segi penanganan, wadah, kualitas air, benih dan faktor-faktor pendukung lainnya. Salah satu hal yang menjadi masalah dalam kegiatan praktikum ini adalah ketersediaan bibit dan penanganan yang kurang baik.

Dari hasil budidaya ikan kuwe (C. sexfasciatus) pada karamba jaring apung (KJA) dengan jumlah benih yang ditebar pada saat penebaran yaitu 160 ekor, dalam kurung waktu kurang dari 3 bulan pemeliharaan ikan kuwe (C. sexfasciatus) tersebut sudah mencapai 40 ekor yang mati akibat penyakit. Penyakit yang menyebabkan matinya ikan-ikan yang dibudidaya ada 2 yaitu stress dan organisme parasit. Berdasarkan perkiraan, kematian ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang dibudidayakan tersebut diakibatkan karena stress sebagai akibat dari aktifitas manusia pada karamba jaring apung yang berlebihan seperti berenang disekitar karamba. Hal ini sesuai dengan pendapat (Novriadi dkk, 2014) menyatakan bahwa kriteria benih ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang baik, adalah: ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.

Dalam budidaya ikan kuwe hal yang paling penting adalah pemberian pakan yang banyak dan yang mudah ditemukan seperti ikan rucah yang banyak dijual di pasar tradisonal. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Mansauda dkk, 2013) yang menyatakan bahwa ketersediaan ikan rucah sebagai pakan utama ikan Kuwe selalu berfluktuasi menurut musim penangkapan baik jumlah maupun jenisnya. Pada saat tertentu ketersediaan pakan ini sedikit sehingga menjadi masalah besar dalam pemeliharaannya.

Ikan kuwe bersifat karnivora. Ikan ini di alam memakan ikan dan krustasea kecil. Oleh karena itu, hingga saat ini pakan yang terbaik untuk budidaya ikan kuwe masih berupa ikan rucah yang dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukan mulutnya. Pakan diberikan sekitar 8-6% bobot badan per hari pada pagi dan sore hari. Perubahan jumlah pemberian pakan dilakukan setiap bulan setelah dilakukan pengukuran pertumbuhan. Ikan rucah yang diberikan dengan frekuensi pemberian ikan rucah dua kali sehari dengan jumlah pemberian hingga kenyang.

Setelah pemelihaaan selama 3 bulan, sudah cukup berkembang dari ukuran benih yang diperkirakan berkisar antara 20-25 g/ekor kini di peroleh rata-rata berat ikan yaitu 67 gram/ekor dari 11 ekor ikan kuwe yang di jadikan sampel pengukuran berat/bobot ikan. Selain kondisi keramba jaring apung dan beberapa parameter perairan yang sesuai untuk budidaya ikan kuwe, pertumbuhan tersebut juga ditunjang oleh pemberian pakan terhadap ikan yang dibudidayakan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung kebutuhan. Namun pada budidaya yang dilakukan banyak yang mati sebelum panen. Hal ini sesuai dengan pendapat (Metusalach dkk, 2014) menyatakan bahwa peningkatan produksi perikanan pada kenyataannya tidak serta merta diikuti oleh peningkatan ketersediaan ikan segar baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku bagi industri pengolahan ikan. Terutama disebabkan oleh masih tingginya tingkat kerusakan ikan pascapanen.

9. Kesimpulan

  • Kriteria benih ikan kuwe (C. sexfasciatus) yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh. 
  • Dalam budidaya ikan kuwe hal yang paling penting adalah pemberian pakan yang banyak dan yang mudah ditemukan seperti ikan rucah yang banyak dijual di pasar tradisonal. 
  • Faktor keberhasilan suatu budidaya tidak terlepas dari adanya ketersediaan faktor pendukung baik berupa segi penanganan, wadah, kualitas air, benih dan faktor-faktor pendukung lainnya. 

DAFTAR PUSTAKA

Alit, A.A.2007. 14 Analisis FInansial Produksi Benih Ikan Kuwe Gonathano Spciousus Forsskal Dengan Padat Penebaran Berbeda Dalam Hatchery Skala Rumah Tangga Di Kecamatan Gerokgak Buleleng Bali. Jurnal Neptunus. 14(1):8-11.

Dermawan, B.D. 2009. Pemanfaatan Ruang  Media  Budidaya  Keramba  Jaring Apung Melalui Polikultur  Ikan  Kerapu  (Serranidae), Ikan  Kuwe (Carangidae), Ikan  Napoleon (Cheilinus Undulatus). Jurnal Sumber daya Perairan. 3(1):6-9.

Kordi, K. M. Ghufran H.2015. Pengelolaan  Perikanan  Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Mansauda,G.F., Sampekalo J., Lumenta C.2013. Pertumbuhan Ikan Kuwe Putih Caranx Sexfasciatus Di Karamba Jaring Apung Yang Diberi Pakan  Rucah Dengan Bahan Tambahan Yang Berbeda. Jurnal Ipteks PSP. 1(1): 40 – 52.

Metusalach,  Kasmiati,  Fahrul,  Jaya  I. 2014.  Pengaruh  Cara   Penangkapan,  Fasilitas Penangan  dan Cara Penanganan  Ikan   Terhadap   Kualitas  Ikan  Yang Dihasilkan. Jurnal Budidaya Perairan.1(3): 81-86.

Novriadi, R., Aguatatik, S., Hedrianto, Pramuanggit, R., Wibowo, A.H. 2014. Penyakit infeksi  pada  budidaya ikan laut indonesia. Balai perikanan budidaya laut batam. 

Rabu, 27 Mei 2020

Dominasi Organisme Benthic (Tinjauan Pustaka)

Biologi laut adalah ilmu yang mempelajari kehidupan di laut beserta interaksi dengan lingkungannya. Keragaman jenis organisme pada perairan laut sangat tinggi sehingga melalui pengetahuan tentang biota laut dapat mengetahui dan dapat mengklasifikasikannya. Organisme pada zona perairan bentik juga memiliki manfaat jika adanya tindakan pengelolaan yang baik contohnya bentos.[1]

Zona bentik merupakan lapisan yang lebih dekat dengan bagian bawah badan air. Organisme yang hidup di daerah bentik dikenal sebagai “benthos”. Zona bentik memiliki sumber daya yang lebih rendah, suhu rendah, tingkat oksigen terlarut rendah, tingkat intensitas cahaya rendah di banding dengan zona pelagic. Hampir semua makhluk hidup di zona bentik adalah hewan sessile (menetap). Pada komunitas zona bentik biasanya didukung oleh detritus yang melayang dari lapisan atas yang di dominasi oleh organisme detritivor (tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri) dan pemulung.

Di dalam perairan laut terdapat berbagai macam organisme yang memiliki ukuran bermacam-macam. Beberapa diantaranya berupa bentik atau bentos. Bentik adalah organisme perairan yang sebagian besar atau seluruh hidupnya berada di dasar perairan. Bentos dibedakan menjadi 3 yaitu: makrobentos, meiobentos, dan mikrobentos. Makrobentos terdiri dari epifauna dan infauna. Infauna sering mendominasi komunitas substrat yang lunak dan melimpah di daerah subtidal sedangkan epifauna terdapat pada semua substrat, akan tetapi lebih banyak hidup di daerah yang memiliki substrat yang keras seperti di daerah intertidal (pasang surut). Organisme ini ada yang hidup melekat (sesil), merayap atau bergerak bebas. Keanekaragaman organisme bentik disebabkan karena adanya dominasi substrat-substrat tertentu sehingga memunculkan jenis-jenis bentos yang homogen.

Dalam menentukan jenis dan jumlah organisme bentik di suatu perairan dapat dilihat melalui tipe substrat dalam perkembangan komunitas organisme bentik. Pada substrat berupa lumpur maupun pasir biasanya mengandung sedikit oksigen sehingga organisme yang hidup harus dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Reproduksi tinggi pada organisme bentik tersebut menunjukan bahwa organisme tersebut memiliki kemampuan beradaptasi untuk berkembangbiak dalam mempertahankan populasinya. Dukungan akibat tidak adanya aktifitas yang dilakukan oleh manusia, dalam memanfaatkan kekayaan jenis biota laut, khususnya jenis bentos pada zona bentik menyebabkan tingginya jenis organisme bentos di suatu daerah atau lokasi tertentu. Selain itu, organisme bentik juga sangat di dukung dengan adanya substrat. Hal ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan habitat, aktivitas, dan keanekaragaman hewan bentik.[2]

Indeks keanekaragaman ditentukan oleh jumlah individu masing-masing spesies sehingga sangat menentukan indeks keanekaragaman. Keanekaragaman spesies pada suatu habitat cenderung akan tinggi apabila individu yang ada pada suatu habitat menyebar secara merata dan masih alami tanpa adanya campur tangan manusia. Namun pada daerah yang banyak terdapat aktivitas yang dilakukan penduduk, memiliki indeks keanekaragaman rendah karena penduduk memanfaatkan jenis organisme bentik sehingga ekosistem mengalami gangguan baik fisik maupun biologis.

Padang lamun merupakan salah satu komoditas terpenting yang mendukung kehidupan berbagai organisme bentik yang merupakan tempat mencari makan, bertelur, memijah. Lamun membentuk habitat dengan produktifitas yang sangat tinggi dilaut. Salah satu kelompok biota laut yang berperan penting dalam ekosistem lamun adalah makrozoobentos. Organisme bentik memegang peran penting dalam siklus rantai makanan.[3]

Indeks dominasi menunjukkan sejauh mana suatu kelompok organism bentik mendominasi kelompok lain. Adanya makrozoobentos memiliki daya adaptasi dan kemampuan untuk bertahan hidup di suatu tempat. Substrat merupakan faktor yang sangat mempengaruhi komposisi komunitas makrozoobentos dan peran relative lingkungan, persaingan, predasi dan kesempatan pada organisme bentik.[4]

Sebagai organisme dasar perairan, bentos mempunyai habitat yang relative tetap. Dengan sifatnya yang demikian, perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya. Penggambaran spesies non-asli yang disengaja dapat juga menimbulkan masalah ekologis.[5]

 

 

 

 

 



[1] Sinyo dan Idris,  Studi Kepadatan dan Keanekaragaman Jenis Organisme Bentos Pada Daerah Padang Lamun di Perairan Pantai Kelurahan Kastela Kecamatan Pulau Ternate, 2013 Vol 2 (1): 160-161
[2] Puspasari, dkk. Kelimpahan Foraminifera Bentik Pada Sedimen Permukaan Perairan Dangkal Pantai Timur Semenanjung Ujung Kulon, Banten. 2012 Vol 1(1):1-9

[3] Litaay, dkk. Makrozoobentos Yang Berasosiasi Dengan Padang Lamun Diperairan Pulau Barrang Lompo, Makassar, Sulawesi Selatan. 2007 Vol 8(4): 299

[4] Gogina, et al. Distibution of Benthic Macrofaunal Communities In the Western Baltic Sea With Regard to Near-Bottom Environmental Parameters. Germany, 2010  Vol 79:112-123

[5] Carolyn, et al. Stable Isotope Patterns of Benthic Organisms The Great Lakes Region Indicate Variable Dietary Overlap of Diporeia spp. And Dreissenid Mussels. USA. 2014  Vol 71:1784-1795

Minggu, 22 September 2019

Jenis Ikan Yang Hidup Pada Ekosistem Mangrove


      Mangar / Manggar (Mangrove Jack)

Kerajaan : Animalia
Filum       : Chordata
Kelas       : Actinopterygii
Ordo        : Perciformes
Keluarga  : Lutjanidae
Genus      : Lutjanus
Spesies    : L. argentimaculatus
Jenis ikan yang satu ini memiliki nama-nama yang berbeda di setiap daerah namun umumnya di Indonesia biasa di sebut Kakap Merah Bakau (Manggar/Mangar), sedangkan masyarakat yang tinggal di Indonesia Timur menyebutnya ikan Sumasi. Di luar Negeri misalnya, di Australia lebih dikenal dengan nama Mangrove Jack dan sedangkan di negara Eropa dikenal dengan nama Mangrove Red Snapper, Red Bream atau Dog Bream.
Kakap Merah Bakau / Manggar (Lutjanus argentimaculatus) adalah spesies ikan kakap yang berasal dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Dari pantai Afrika ke Samoa dan Kepulauan Line, dari Ryukyu di Utara ke Australia di Selatan. Juga telah tercatat dari pesisir Lebanon di Laut Mediterania mencapai laut merah melalui Terusan Suez. 
Deskripsi fisik: 
Mangrove Jack memiliki bentuk tubuh yang sama seperti ikan air tawar pada umumnya namun, memiliki duri yang tajam dan kuat di punggungnya dan sebagai ikan predator mangrove jack mimiliki gigi taring yang cukup panjang dan kuat, seperti anjing (Dog Bream). Sedangkan ciri-ciri kulit/sisiknya, berwarna merah/coklat – kehitaman atau kekuning – kuningan dan ada juga yang berwarna putih/silver – kekuningan, tergantung pada umur dan lingkungan.
Ukuran:
Mangrove Jack dapat tumbuh hingga 10 kg tetapi, paling sering tertangkap memiliki bobot berkisar antara 1 kg hingga 3 kg.
 Habitat / Lingkungan:
            Seperti namanya, ikan mangrove Jack sering ditemukan pada sistem Muara yang dipenuhi pohon bakau, meskipun seringkali bermigrasi ke terumbu karang lepas pantai untuk bertelur. Sebagai predator, mereka sering tinggal di sekitar akar-akar pohon bakau, pohon-pohon tumbang, tumpukan batu, dan di daerah-daerah yang banyak terdapat ikan-ikan kecil, kepiting dan udang sebagai makanan utamanya.
Ketika dewasa, ikan Manggar (Mangroce Jack) pindah ke perairan terbuka, kadang-kadang hingga mencapai ratusan kilometer dari pantai untuk berkembang biak. Namun, saat usia remaja ikan Mangrove Jack lebih sering ditemukan berada di daerah-daerah Muara dan biasanya memiliki warna yang lebih gelap daripada ikan Mangrove Jack yang hidup di lepas pantai atau daerah terumbu karang. 
Ikan Gelodok (Periophthalmus sp.
Ikan gelodok dapat merangkak naik ke darat atau bertengger pada akar-akar pohon bakau. itulah kemampuan luar biasa ikan gelodok atau disebut juga ikan tembakul. Ikan ini hidup di zona pasang surut di lumpur pantai yang ada pohon-pohon bakaunya. Ikan ini telah menyesuaikan diri untuk hidup di darat meskipun belum sepenuhnya. Matanya besar dan mencuat keluar dari kepalanya. kalau berenang, matanya biasanya berada di atas air. Sirip dadanya pada bagian pangkal berotot, dan sirip ini bisa ditekuk hingga berfungsi seperti lengan yang dapat digunakan untuk merangkak atau melompat di atas lumpur.
Ikan gelodok biasanya ditemukan di muara-muara sungai yang banyak pohon bakaunya. di pantai pulau-pulau karang yang ada bakaunya, gelodok juga dapat di temukan. di pulau Pari, Jakarta, misalnya banyak terdapat Periophthalmus koelreuteri (panjang kurang lebih 150 mm) dan Periophthalmus vulgaris (panjang kira-kira 105 mm). Bila air surut ikan gelodok banyak terlihat keluar dari air, merangkak atau melompat lompat di atas lumpur dan jika air pasang ia masuk ke hutan bakau, baru turun kembali ke lumpur-lumpur pantai bila air telah surut atau ia bersembunyi pada lubang-lubang sarangnya. Toleransinya sangat besar terhadap perubahan salinitas. Sirip dada ekornya digunakan sebagai alat gerak di darat. Ikan ini kadang-kadang bergerombol bertengger pada akar-akar tunjang pohon bakau Rhizophora atau berada di antara akar-akar tunjang pohon bakau Sonneratia. Sirip perutnya yang menyatu berfungsi sebagai alat penghisap untuk berpegang.  
Organ pernapasan pada ikan glodok adalah insang tetapi telah disesuaikan untuk bisa digunakan di darat. ini dilakukan dengan memerangkap air di rongga insang dengan cara menutup rapat mulut dan tutup insang. Ikan ini bisa berada di darat selama air yang di bawahnya masih mengandung oksigen kalau oksigenya habis, ia harus segera mencari air segar lagi dan proses yang sama terulang kembali.      
Ikan gelodok hanya dijumpai di pantai-pantai beriklim tropis dan subtropis di wilayah Indo-Pasifik sampai ke pantai Atlantik Benua Afrika. Saat ini telah teridentifikasi sebanyak 35 spesies ikan gelodok. Terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Boleophthalmus, Periophthalmus dan Periophthalmodon. Beberapa spesies contohnya adalah Pseudapocryptes elongatus, Periophthalmus gracilis, Periophthal musnovem radiatus, Periophthalmus barbarus, Periophthalmus argentilineatus dan Periophthalmodon  schlosseri.
Ikan Kapas-kapas
Klasifikasi ikan kapas-kapas
Ordo           : Cypriniformes
Famili         : Characidae
Genus         : Geres
Spesies       : Geres punctatus
Ikan kapas-kapas memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung (pinnae dorsalis), sirip dada (pinnae pectoralis), sirip perut (pinnae ventralis), sirip dubur (pinnae analis), dan sirip ekor (pinnae caudalis). Sirip punggung panjang hingga kepangkal ekor dan sirip dubur  panjang hingga kepangkal ekor. Sirip ekor bercagak dan berada di belakang.. Linea lateralisnya lurus agak melengkung. Habitat  : ekosistem mangrove.

Ikan Belanak

Ikan dari suku Mugilidae ini di dunia dikenal sebagai ikan Mullets dan mempunyai banyak nama lokal diantaranya sebagai ikan gadah, bale belana, jumpul, goru, rapang dan gadeh. Biasa hidup mulai dari sungai, muara, pelabuhan, dermaga dan pantai. Jarang berada terlalu jauh dari pantai. Ikan belanak merupakan ikan bentopelagic (hidup didasar sampai permukaan air) dan bergerombol dalam jumlah banyak.
              Kingdom : Animalia
              Phylum    : Chordata
              Class        : Actinopterygii
              Ordo        : Mugiliformes
              Family     : Mugilidae
              Genus      : Mugil
              Spesies    : Mugil sp.
·         Ikan belanak secara umum bentuknya memanjang agak langsing dan gepeng
·         Sirip punggung terdiri dari satu jari-jari keras dan delapan jari-jari lemah
·         Sirip dubur berwarna putih terdiri dari satu jari-jari keras dan sembilan jari-jari lemah
·         Bibir bagian atas lebih tebal daripada bagian bawahnya ini berguna untuk mencari makan di dasar/organisme yang terbenam didalam lumpur
·         Ciri lain dari ikan belanak yaitu mempunyai gigi yang sangat kecil, tetapi kadang-kadang pada beberapa spesies tidak ditemukan sama sekali
·         Sirip perut berwarna keperakan
·         Pada pinggiran belakang sirip ekor berwarna hitam
·         Pada permulaan sirip dada terdapat spot biru Moolgarda delicatus
·         Ikan belanak bersisik cycloid atau ctenoid
·         Ujung rahang atas melengkung ke bawah dan terlihat pada saat mulutnya tertutup.

Ikan Kuwe

         Ikan Kuwe (Caranx Sexfasciatus) atau yang lebih dikenal dengan nama blue fin treavllyu, termasuk ikan dasar dari golongan predator. Sejatinya si Kuwe adalah ikan perairan berkarang dangkal dan berbatasan dengan laut terbuka. 

Kerajaan
: Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Upaordo
: Percoidei
Famili
: Carangidae
Superfamili
: Percoidea
Genus
: Caranx
Spesies
: C. Ignobilis

Ikan kuwe memiliki morfologi badan memanjang, gepeng, dan sedikit lonjong. Lapisan insang 16-18 pada busur insang pertama bagian bawah Sirip punggung pertama berjari-jari keras 9 Sirip punggung kedua berjari-jari keras 1 dan 18-21 lemah Sirip dubur terdiri 2 jari-jari keras (lepas), diikuti 1 jari-jari keras dan 14-16 lemah Bagian depan garis rusuk melengkung, lurus bagian belakangnya terdapat 24-34 sisik duri pada bagian yang lurus garis rusuk termasuk ikan buas, makanannya ikan-ikan kecil, crustacea. Hidup di perairan dangkal, karang-karang, membentuk gerombolan kecil. Warna bagian atas kehijauan atau biru keabuan, putih perak bagian bawah pada jenis muda terdapat 4-7 ban lebar melintang kedua sirip punggungnya berwarna putih kotor dengan pinggir keputihan. Sirip ekor gelap atau sedikit kuning dengan ujung gelap Lain-lain sirip pucat.

Ikan Barracuda

Klasifikasi
Kingdom      :  Animalia
Filum         : Chordata
Kelas              :  Actinopterygii
Ordo          : Perciformes
Family       : Sphyraenidae
Genus            :  Sphyraena


Habitat ikan barakuda ditemukan terutama di permukaan atau dekat permukaan. Diurnal dan soliter tapi ikan-ikan muda sering membentuk sekumpulan kecil, biasanya berada di tepi karang dan diatas tempat-tempat dangkal. Makanannya terutama ikan, juga cumi-cumi. Termasuk jenis ikan pelagis. Ikan muda berada di daerah Bakau, Estuari dan Terumbu Karang bagian dalam; ikan dewasa tersebar luas dari Pantai sampai Laut lepas; bersifat Soliter namun bisa juga ditemukan dalam gerombolan kecil. Termasuk ikan carnivor, jenis makanannya dari ikan, Cephalopoda dan Udang. Sistem Pernapasan  Pertukaran gas CO2 dan O2 terjadi secara difusi ketika air dari habitat yang masuk melalui mulut terdorong ke arah daerah insang. O2 yang banyak dikandung di dalam air akan diikat oleh hemoglobin darah, sedangkan CO2 yang dikandung di dalam darah akan dikeluarkan ke perairan. Darah yang sudah banyak mengandung O2  kemudian diedarkan kembali ke seluruh organ tubuh dan seterusnya.

Ikan Kerapu
  
          Ikan kerapu memiliki 15 genera yang terdiri atas 159 spesis. Satu diantaranya adalah Cromileoptes altivelis yang selain sebagai ikan konsumsi juga juvenilnya juga sebagai ikan hias. Ikan kerapu termasuk famili Serranidae, Subfamili Epinephelinea, yang umumnya di kenal dengan nama groupers, rockcods, hinds, dan seabasses. Ikan kerapu ditemukan diperairan pantai Indo-Pasifik sebanyak 110 spesies dan diperairan Filipina dan Indonesia sebanyak 46 spesies yang tercakup ke dalam 7 genera Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Cromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan Variola (Marsambuana dan Utojo, 2001).
Ikan Kerapu diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom   : Animal
Kelas         : Pisces
Ordo         : Percomorphi
Famili        : Serranidea
Genus        : Epinephelus
Spesies       : Epinephelus sp.
Ciri-ciri morfologi ikan kerapu bentuk tubuh pipih, yaitu lebar tubuh lebih kecil dari pada panjang dan tinggi tubuh. Rahang atas dan bawah dilengkapi dengan gigi yang lancip dan kuat. Mulut lebar, serong ke atas dengan bibir bawah yang sedikit menonjol melebihi bibir atas. Sirip ekor berbentuk bundar, sirip punggung tunggal dan memanjang dimana bagian yang berjari-jari keras kurang lebih sama dengan yang berjari-jari lunak.  Posisi sirip perut berada dibawah sirip dada. Badan ditutupi sirip kecil yang bersisik stenoid.

Ikan Alu-Alu (Sphyraena jello)

Klasifikasi ikan alu-alu:
Filum : Chordata
Kelas  : Pisces
Ordo   : Perciformes
Famili : Sphyraenidae
Genus : Sphyraena
Spesies : Sphyraena jello
Ikan alu-alu mempunyai bentuk badan memanjang, ramping, pipih ramping. Warna umumnya keperak-perakan dengan punggung yang agak gelap keabu-abuan. Terdapat 18-23 ban-ban yang membentuk sudut melintang badan melalui garis rusuk. Kedua sirip punggungnya biru kehitaman, sirip dubur ujungnya agak gelap. Tubuhnya diliputi sisik yang kecil. Sirip punggung dua terpisah jauh. Sirip punggung kedua tepat di atas sirip anal. Sirip ekor berbentuk cagak. Sirip dada agak ke bawah. Bentuk dan posisi mulut besar meruncing, rahang merupakan senjata dengan taring menyerupai gigi, rahang bawah lebih panjang dari rahang atas, sirip punggung pertama berjari-jari keras 5, sirip punggung kedua berjari-jari mengeras 2 dan 8-9 jari-jari yang bercabang. Termasuk ikan buas, predator. Hidup mulai dari perairan pantai, daerah lepas pantai (Jenis-jenis yang besar). Hidup menyendiri, bergerombol kecil. Panjang total tubuh ikan yang tertangkap bisa mencapai 820 mm.

Ikan alu-alu, bentuk tubuhnya bulat panjang dengan kepalanya menirus kebagian moncong, mulutnya lebar, rahang bawah lebih panjang dari pada rahang atas. kedua rahang serta langit-langit mempunyai gigi yan relatif besar dan tajam, badan dan kepala pada pipi dan tutup insang ditutupi dengan sisik-sisik kecil, pinggir tubuh dan perutnya berwarna perak dan mengkilat, tetapi punggungnya berwrna hijau abu-abu, mempunyai dua sirip punggung yang di depan seluruhnya disokong oleh jari-jari keras dan sebanyak lima buah, dan yang belakang hanya mempunyai satu jari-jari keras dan sebanyak sembilan jari-jari lunak, sirip ekor bercagak, berlekuk dua dan mempunyai 17 jari-jari lunak, sirip dubur mempunyai satu jari-jari keras dan 8-9 jari-jari lunak, sirip dada letaknya lebih ke bawah, biasanya hidup di laut tropis dan sub tropis.